Perdebatan Antara Asy'ari dan Atsari; Mencari Titik Temu dalam Perbedaan
Oleh : Muhammad Fauzan
Fenomena perdebatan antara kelompok Asy'ariyah dan Atsariyah belakangan ini kembali mencuat di ruang publik. Perdebatan ini tidak hanya terjadi di forum ilmiah, tetapi juga menyebar luas di media sosial yang menjadi panggung utama untuk adu argumen dan pernyataan. Sayangnya, banyak perdebatan yang terjadi di ruang digital ini lebih bersifat emosional, penuh provokasi, dan cenderung mengarah pada saling tuduh, bahkan saling mengafirkan. Hal ini tentu menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, terutama mereka yang tidak memahami latar belakang perbedaan ini secara mendalam.
Di satu sisi, Asy'ariyah dianggap mewakili kalangan Sunni tradisionalis yang memiliki kedekatan dengan praktik tasawuf. Mereka menganut metode takwil dalam memahami ayat-ayat yang mengandung sifat-sifat Allah, dengan tujuan untuk menjaga konsep tanzih, yaitu keyakinan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk dalam bentuk apa pun. Mazhab Asy'ariyah banyak dianut oleh mayoritas Muslim di dunia, termasuk di Indonesia, yang terwakili oleh organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU).
Sementara itu, Atsariyah lebih dikenal sebagai kelompok yang menolak segala bentuk takwil dalam memahami sifat-sifat Allah. Mereka mengedepankan pendekatan literal dalam memahami Al-Qur'an dan Hadis, dengan keyakinan bahwa teks-teks suci tersebut harus diterima sebagaimana adanya, tanpa mempertanyakan bagaimana bentuk atau hakikatnya. Kelompok ini sering diasosiasikan dengan gerakan Salafi atau Wahabi, yang menekankan kemurnian ajaran Islam sesuai dengan pemahaman generasi salaf (tiga generasi awal Islam).
Dalam konteks perdebatan ini, penting untuk memahami bahwa baik Asy'ariyah maupun Atsariyah sama-sama mengaku berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadis. Perbedaan muncul dalam metode pendekatan dan interpretasi terhadap teks-teks suci tersebut. Perbedaan ini sebenarnya telah ada sejak masa klasik Islam, namun seiring berjalannya waktu, perdebatan ini mengalami dinamika baru, terutama di era modern yang ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi.
Dalam tulisan ini, kita akan mencoba mengurai akar perbedaan antara kedua kelompok ini, membahas implikasi sosial dari perdebatan tersebut, dan menawarkan pandangan tentang bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi perbedaan ini agar tidak menjadi penyebab perpecahan di tengah umat. Alih-alih terjebak dalam polemik yang tidak produktif, umat Islam seharusnya lebih fokus pada upaya untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan mencari titik temu yang dapat mempersatukan, tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip aqidah yang diyakini masing-masing
Akar Perbedaan: Asy'ariyah dan Atsariyah
Secara historis, Asy'ariyah adalah mazhab teologis yang didirikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari. Mazhab ini muncul sebagai respons terhadap berbagai aliran teologi yang ekstrem pada masanya, seperti Mu'tazilah yang mengedepankan akal secara berlebihan dalam memahami agama. Asy'ariyah mencoba menyeimbangkan antara dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadis) dengan dalil aqli (akal) dalam memahami sifat-sifat Allah. Salah satu ciri khas Asy'ariyah adalah penggunaan takwil dalam memahami ayat-ayat yang menyebut sifat-sifat Allah agar tidak menyerupai makhluk (tanzih).
Di sisi lain, Atsariyah, menolak segala bentuk takwil dalam memahami sifat-sifat Allah. Mereka berpegang pada prinsip bahwa ayat-ayat yang menyebut sifat-sifat Allah harus dipahami sesuai dengan makna zahirnya tanpa mempertanyakan bagaimana bentuknya (bila kayf). Pandangan ini sering kali dianggap lebih puritan karena mengutamakan pemahaman literal terhadap teks agama.
Persoalan Sifat-Sifat Allah
Perbedaan pandangan yang paling mencolok antara Asy'ariyah dan Atsariyah adalah dalam memahami sifat-sifat Allah. Misalnya, dalam memahami ayat yang menyebutkan “yadullah” (tangan Allah), Asy'ariyah menafsirkan bahwa kata tersebut bukan berarti tangan secara fisik, melainkan kiasan yang berarti kekuasaan Allah. Mereka berpendapat bahwa jika ayat ini dipahami secara literal, maka akan ada keserupaan antara Allah dan makhluk-Nya, yang bertentangan dengan konsep tanzih.
Sebaliknya, kelompok Atsariyah memahami “yadullah” sebagaimana adanya, tanpa menakwilkannya. Mereka menerima bahwa Allah memiliki tangan, tetapi tangan tersebut tidak menyerupai tangan makhluk (laysa kamitslihi syai’). Bagi mereka, takwil berpotensi mengubah makna asli dari ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis.
Dampak Perdebatan di Tengah Umat
Perdebatan antara kedua kelompok ini tidak hanya terjadi di kalangan akademisi dan ulama, tetapi juga menyebar di masyarakat awam. Ironisnya, perdebatan ini sering kali disertai dengan narasi yang provokatif dan penuh emosi. Kelompok yang mengikuti Asy'ariyah kerap dicap sebagai pelaku bid'ah oleh kelompok Atsariyah, sementara pengikut Atsariyah sering dicap sebagai ekstremis atau Wahabi oleh kelompok Asy'ariyah.
Perdebatan ini berpotensi memecah belah ukhuwah Islamiyah di tengah umat. Padahal, jika dilihat dari sejarah Islam, kedua mazhab ini masih berada dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jamaah. Perbedaan pandangan dalam teologi adalah hal yang wajar dan sudah terjadi sejak masa para sahabat. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan ini digunakan sebagai alasan untuk saling menyerang dan mengafirkan.
Mencari Titik Temu dalam Perbedaan
Dalam menghadapi perbedaan antara Asy'ariyah dan Atsariyah, penting bagi umat Islam untuk mengedepankan sikap toleransi dan saling menghormati. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil untuk meredam perdebatan yang tidak produktif:
Menghormati Perbedaan Pendapat Islam mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan pendapat. Dalam hal aqidah, perbedaan di antara Asy'ariyah dan Atsariyah adalah persoalan ijtihadiyah yang tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah belah umat.
Mengutamakan Ukhuwah Islamiyah Persatuan umat Islam lebih penting daripada perdebatan teologis yang sering kali tidak membawa manfaat praktis. Umat Islam seharusnya fokus pada masalah-masalah yang lebih mendesak, seperti kemiskinan, pendidikan, dan keadilan sosial.
Belajar dari Sumber yang Kredibel Banyak perdebatan yang terjadi karena kurangnya pemahaman dan informasi yang akurat. Umat Islam perlu belajar dari sumber-sumber yang kredibel dan menghindari konten-konten provokatif di media sosial.
Menghindari Takfir (Pengkafiran) Salah satu dampak negatif dari perdebatan ini adalah kecenderungan untuk mengafirkan kelompok yang berbeda pandangan. Sikap takfir sangat berbahaya karena dapat memicu konflik dan perpecahan di tengah umat.
Perdebatan antara Asy'ariyah dan Atsariyah adalah fenomena yang sudah terjadi sejak lama dalam sejarah Islam. Meski memiliki perbedaan pandangan yang signifikan, kedua kelompok ini masih berada dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jamaah. Oleh karena itu, perbedaan ini seharusnya disikapi dengan bijak dan tidak dijadikan alasan untuk memecah belah umat.
Umat Islam perlu menyadari bahwa perbedaan dalam teologi adalah bagian dari kekayaan intelektual Islam. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjaga persatuan dan mengedepankan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah di tengah perbedaan. Dengan demikian, umat Islam dapat menghadapi tantangan zaman dengan lebih solid dan harmonis, tanpa terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif.